Glitter Text Generator at TextSpace.net

Minggu, 11 April 2010

Senyum di Balik Duka

Bencana bisa datang kapan saja tanpa kita perkirakan.
Bencana bisa merengut siapa dan apa saja tanpa
diminta. Bencana memberi kita duka bahkan luka yang
mendalam. Bencana juga mengajarkan kita tentang kuasa
alam dan kecilnya manusia di hadapan-Nya. Bencana
mengajarkan kita tentang bagaimana sifat-sifat alamiah
manusia yang beragam. Bencana memberi kita semua yang
mengharu-biru itu. Menangis, gagap, histeris, bahkan
trauma. Tetapi seringkali diantara ketiadaan..ketika
kita tidak punya apa-apa lagi, maka ada satu yang
tetap ingin kita miliki, semangat hidup. Melanjutkan
hidup sebagai karunia Tuhan yang begitu berharga.

Diantara duka itu, diantara mereka yang sudah mulai
lelah menangis, lelah dengan rasa takut dan panik, ada
semangat hidup yang terbit. Ada senyum di balik duka.
Sebuah senyum yang sebenarnya getir, tetapi memberi
sepercik kegembiraan, membangun semangat, menghapus
luka, pulihkan jiwa.

Berikut ini kumpulan cerita yang sebenarnya tidak
dimaksutkan untuk ‘sekedar tertawa’ tetapi dihimpun
sebagai suatu kisah-kisah jenaka dari mereka yang
masih bisa tersenyum, menyisakan semangat hidup
diantara puing-puing kedukaan.

1. Kisah Jenaka Pertama (dikisahkan oleh Tia, relawan
di wilayah Mojohuro Imogiri, 90 % wilayah hancur)
Senin siang itu, hari ketiga setelah gempa, aku
mengunjungi kawanku. Kawanku, Mas Bari, masih bisa
tersenyum diantara puing-puing rumahnya yang hancur,
nyaris rata dengan tanah di Mojohuro, Imogiri. Senyum
dan canda anak-anaknya yang masih berusia 2 dan 9
tahun memberinya semangat hidup. Ketika kami datang ke
belakang rumahnya, ia menunjuk sebuah WC model jaman
dulu yang terletak di luar rumah. Tembok WC itu sudah
hancur, tetapi lubang WC-nya, untung, masih bisa
mereka pakai sebagai WC darurat dengan pembatas
plastic disekelilingnya sebagai penutup. Tiba-tiba dia
tersenyum ketika anak tertuanya, Agus bercerita dengan
jenaka padaku. “Mbak waktu gempa Lik Harno (adik Mas
Bary) ada di dalam WC itu sedang pup (buang air
besar).” “Wah lucu sekali lho dia lari keluar WC
masih belum sempat tutup restleting, ha..ha..ha…”
begitu, tuturnya polos. Kami semua yang ada disana
tersenyum. Bahkan Ayah Mas Bary yang sudah renta-pun
ikut tertawa mengenang peristiwa itu. Mas Bary
bertutur singkat, “Ah, Mbak inilah anak-anak. Tanpa
mereka mungkin kami ini semua sudah putus asa.”Ya,
memang, kita seringkali menggunakan kosa-kata
‘kekanak-kanakan’ sebagai sesuatu yang berkonotasi
negatif, tetapi justru kanak-kanak lah yang seringkali
mengajari kita untuk tetap tabah menjalani hidup.

2. Kisah Jenaka Kedua (dikisahkan oleh Tanti,
mengalami gempa di wilayah Karangwaru, Kotamadya Yogya
wilayah utara, sedikit sekali kerusakan di kampungnya
hanya 3 rumah yang atapnya ambruk)
Pagi itu aku lari turun dari tangga karena rumah kami
bergoyang-goyang keras. Belum pernah aku merasakan
gempa sehebat itu di Yogya. Pikirku, ini pasti Merapi
meletus, ternyata bukan. Waktu aku keluar rumah di
depan jalan sudah banyak orang. Beberapa detik
kemudian setelah gempa reda, aku dan beberapa
tetanggaku baru sadar, ternyata diantara kami ada anak
tetangga, Bayu bocah lelaki yang sudah kelas 2 SMP
masih bergidik ketakutan. Dia masih menangis sambil
memeluk badan ibunya dari belakang. Ternyata Bayu
tidak pakai baju sama sekali, alias TLBB (telanjang
bulat-bulat). Rupanya waktu kejadian, Bayu sedang
mandi pagi untuk berangkat sekolah. Pasti tidak ada
orang yang perhatikan dia sedang telanjang waktu
berhamburan lari keluar rumah. Tetapi yang membuat
kami tersenyum diantara rasa takut dan parno (paranoid
akan terjadi gempa susulan), adalah ketika Bayu
menutupi ‘aurat’nya di balik tubuh ibunya. Jadinya
ketika gempa reda, mereka berjalan seperti truk
gandeng saja, karena Bayu malu, cepat-cepat ingin
pulang ke rumah. Ketika esoknya kutanya, “Bayu, udah
besar kemaren waktu gempa kok nangis?” jawabnya lugu,
“Ya itu campur perasaanku, Mbak, antara takut gempa
dan juga malu...” Yah ada-ada saja, pikirku. Untung
RUU-APP belum disyahkan ya..coba kalau sudah..pasti
Bayu terkena kriminalisasi deh...he..he..he..

3. Kisah Jenaka ketiga (dikisahkan pada penulis oleh
Joko, korban gempa yang selamat, tinggal di daerah
Sewon, Bantul)
Sebenarnya yang membuatku paling trauma itu justru
bukan waktu ada gempa, Mbak. Waktu itu, aku udah
pasrah karo Gusti Allah tenan! Pikirku, ini pasti
sudah mau kiamat saja. Tetapi ketika gempa itu
akhirnya reda, kurang dari satu jam kemudian semua
orang panik, ribut-ribut akan ada tsunami.
Waduuh..rasanya seperti mengalami teror dalam hidup
saja. Aku nggak bisa keluarkan mobil, Mbak karena
mobilnya hancur ketiban atap dan dinding garasi.
Untung pagi itu waktu ada gempa, aku sedang panaskan
sepeda motor di halaman, mau antar istri ke pasar.
Waktu ribut-ribut ada tsunami itu, secara spontan aku
langsung ngajak istriku dan anakku yang berumur 2
tahun (anaknya Joko bernama Idham, diberi nama seperti
itu karena dia sangat mengagumi Bupati Bantul-‘bukan
promosi politik lho wong Pilkada disini/Bantul, sudah
lewat’-begitu selorohnya). Waktu itu aku langsung
nge-gas, Mbak secepat-nya. Jalanan sudah penuh mobil
dan motor, bahkan orang lari-lari. Waktu aku sampai di
batas kota (kota Yogya bagian selatan), karena jalanan
macet sekali jadinya motorku cuma bisa jalan
pelan-pelan. Eh, kok tiba-tiba di jalan itu aku dan
istriku, juga orang-orang yang antri di jalanan itu
malah dikasih nasi bungkus oleh sekelompok orang,
Mbak. Kupikir, lho kok baik sekali orang ini ngasih
aku sangu (bekal), nasi bungkus di dalam kantong
plastik. Apa mereka sudah tau ya, kalau akan ada
bencana? Elah dalah..setelah semua ini reda, aku baru
tau Mbak..ternyata mereka itu semua pemilik
warung-warung makan. Waktu kutanya, kok mereka baik
banget mau kasih nasi bungkus segala? Jawabnya
singkat: “Wah Mas, kalau memang benar-benar ada
tsunami lewat sini, kami sudah nggak bisa kemana-mana
karena jalanan penuh sesak. Jadi kami pikir, ya kami
berbuat amal sajalah sebelum mati. Lagipula, nanti
juga nggak laku, daripada mubazir, Mas.” Yah..itulah
Mbak suka-dukanya gempa. Mungkin orang baru mau
beramal sosial karena ‘kiamat sudah dekat’ (bukan
promosi sinetron lho! Katanya, menambahkan).
Itu dulu senyum yang ingin kami bagi dari puing-puing
yang tersisa di Yogya.

1 komentar: