Glitter Text Generator at TextSpace.net

Selasa, 20 April 2010

This smile....

just 4 U.....

just for My God,

just for My Family,

just for My Love,

just for  All My The Best Friend,

1 Smile .... 1 Life.....

So, always SMiLE for anybody ......which loved U.....

Don't disappointed all the world and his wife...

Because , it can make your Life Long...

Oc???????TRUST ME.......

GBU^_^ all...

Minggu, 11 April 2010

Senyum Itu Sedekah

Senyum itu sedekah, senyum itu awet muda, senyum itu kemesraan, senyum itu pengikat sahabat, senyum itu penambah kasih, senyum itu pelaris jualan, senyum itu pengiktirafan, senyum juga pemanis wajah, senyum menambahkan kecantikan dan yang pastinya senyuman itu membawa kebaikan.

Senyum juga perlu dimasukkan roh ikhlas, senyum ikhlas adalah senyum kerana Allah, senyum kerana menyahut perintah Allah dan Rasul. Orang Islam disuruh senyum dan dilarang sombong
dan sombong diri.
___________________________________________

Senyum biarlah pada tempatnya.
_____________________________________________

Senyum mesra datang dari hati yang baik, tulus dan ikhlas, senyum rekaan ialah senyuman pura-pura dan kejahatan.

Orang yang mindanya terbuka dan bersangka baik akan melahirkan senyuman yang ikhlas, orang yang bahagia senang mengukirkan senyuman, senyumannya kelihatan manis dan indah.

Orang yang sedang menghadapi tekanan jiw
a sukar melahirkan senyuman, senyumannya kelihatan kurang indah dan tawar serta kurang menarik.

Senyumlah selalu bila bertemu kawan, senyum tidak menggunakan banyak tenaga tetapi ianya mempunyai banyak kebaikan, disenangi anak isteri, rakan taulan, jiran tetangga dan sudah tentulah yang paling istimewa dikasihi Allah.



Senyuman melahirkan kegembiraan dan kebahagiaan serta mendekati Allah, bersamanya rahmat dan nikmat yang tidak dapat dijual-beli.

Apakah pandangan anda ???.

Senyum

Manis wajahmu kulihat di sana,
Apa rahsia yang tersirat,
Tapi zahirnya dapat kulihat,
Mesra wajahmu dengan senyuman.

Senyuman...senyuman

Senyum tanda mesra,
Senyum tanda sayang,
Senyumlah sedekah yang paling mudah,
Senyum di waktu susah,
Tanda ketabahan,
Senyuman itu tanda keimanan.

Senyumlah senyumlah senyumlah senyumlah

Hati yang gundah terasa tenang,
Bila melihat senyum hatikan tenang,
Tapi senyumlah seikhlas hati,
Senyuman dari hati jatuh ke hati.

Senyumlah senyumlah

Senyumlah seperti Rasulullah,
Senyumnya bersinar dengan cahaya,
Senyumlah kita hanya kerana Allah,
Itulah senyuman bersedekah.

Senyumlah senyumlah senyumlah senyumlah

Itulah sedekah yang paling mudah,
Tiada terasa terhutang budi,
Ikat persahabatan antara kita,
Tapi senyum jangan disalah guna.

Senyumlah senyumlah senyumlah senyumlah

Arti Sebuah "Senyum"

Sebuah renungan tentang makna dari kehidupan yang berawal dari sebuah "senyum", penuh nilai-nilai yang berarti bagi pelajaran hidup kita...simak ya

Saya adalah ibu dan baru saja menyelesaikan kuliah saya.Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi.Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama 'Smiling.' Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka.Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu 'bau badan kotor' yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang 'tersenyum' kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu.

Ia menyapa 'Good day!' sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri
di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah 'penolong'nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka, dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai di depan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan 'Kopi saja, satu cangkir Nona.' Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap 'makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.'

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata 'Terima kasih banyak, nyonya.' Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata 'Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah
membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.'

Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata 'Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-2ku! ' Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restorandan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami. Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap 'Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.'

Saya hanya bisa berucap 'terimakasih' sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, 'Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?' dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya..

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya .

'Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.'

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: 'PENERIMAAN TANPA SYARAT.'

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN
MEMANFAATKAN SESAMA!

Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.

Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri.

Very Happy

Arti Sebuah Senyuman

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yang bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Pengalaman ini dikisahkan dari seorang ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliahnya. Kelas terakhir yang harus dia ambil adalah sosiologi. Sang dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling". Seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya, dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan di depan kelas.

Ibu itu adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, dia pikir, tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tsb, dia bergegas menemui suaminya dan anak bungsunya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering.

Sewaktu suaminya akan masuk dalam antrian, dia menyela dan meminta agar suaminya saja yang menemani si bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika ibu itu sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri di belakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian. Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir?

Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakangnya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Ibu itu bingung,dan tidak mampu bergerak sama sekali. Ketika dia menunduk, tanpa sengaja matanya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" ke arahnya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam,tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap ke arahnya, seolah ia meminta agar ibu itu dapat menerima 'kehadirannya' di tempat itu. Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.

Secara spontan ibu itu membalas senyumnya, dan seketika teringat olehnya 'tugas' yang diberikan oleh dosennya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Ibu itu segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"-nya. Ibu itu merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal dia bersama mereka,dan mereka bertiga tiba-tiba saja sudah sampai di depan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin dipesannya, Ibu itu mempersilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona." Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka(sudah menjadi aturan di restoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja ibu itu diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpau beberapa saat, sambil matanya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka... Pada saat yang bersamaan, ibu itu baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke dirinya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan'-nya. Ibu itu baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapanya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin dia pesan.

Ibu itu tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (di luar pesanannya) dalam nampan terpisah. Setelah membayar semua pesanan, dia minta bantuan petugas lain yang adadi counter itu untuk mengantarkan nampan pesanannya ke meja/tempat duduk suami dan anaknya. Sementara ibu itu membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelakiitu untuk beristirahat. Ibu itu meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja mereka, dan meletakkan tangannya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil ibu itu berucap: "Makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arahnya, kini mata itu mulai basah berkaca-kaca dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak,nyonya". Ibu itu mencoba tetap menguasai dirinya, sambil menepuk bahu mereka, ibu itu berkata "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian".

Mendengar ucapannya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali ibu itu merengkuh kedua lelaki itu. Ibu itu sudah tidak dapat menahan tangis ketika dia berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anaknya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika ibu itu duduk suaminya mencoba meredakan tangisnya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak2ku!" Mereka saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu mereka benar2 bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah mereka telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika mereka sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja mereka, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan mereka. Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan ibu itu, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami". Ibu itu hanya bisa berucap "terima kasih" sambil tersenyum.

Sebelum beranjak meninggalkan restoran, ibu itu menyempatkan untuk melihat ke arah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin mereka, mereka langsung menoleh ke arahnya sambil tersenyum, lalu melambai-lambaikan tangannya ke arahnya. Dalam perjalanan pulang ibu itu merenungkan kembali apa yang telah dia lakukan terhadap kedua orang tuna wisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir olehnya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepadanya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Ibu itu kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangannya. Ibu itu menyerahkan 'paper' kepada dosennya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya ibu itu dipanggil dosennya ke depan kelas, ia melihat kepadanya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati ibu itu mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan papernya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang di dekat ibu itu diantaranya datang memeluknya untuk mengungkapkan perasaan harunya. Di akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis di akhir paper ibu itu. "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' dirinya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suaminya, anaknya, dosennya,dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhirnya sebagai mahasiswi. Ibu itu lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah dia dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT." Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya! Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.

Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya. Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena kita tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri.

Senyum di Balik Duka

Bencana bisa datang kapan saja tanpa kita perkirakan.
Bencana bisa merengut siapa dan apa saja tanpa
diminta. Bencana memberi kita duka bahkan luka yang
mendalam. Bencana juga mengajarkan kita tentang kuasa
alam dan kecilnya manusia di hadapan-Nya. Bencana
mengajarkan kita tentang bagaimana sifat-sifat alamiah
manusia yang beragam. Bencana memberi kita semua yang
mengharu-biru itu. Menangis, gagap, histeris, bahkan
trauma. Tetapi seringkali diantara ketiadaan..ketika
kita tidak punya apa-apa lagi, maka ada satu yang
tetap ingin kita miliki, semangat hidup. Melanjutkan
hidup sebagai karunia Tuhan yang begitu berharga.

Diantara duka itu, diantara mereka yang sudah mulai
lelah menangis, lelah dengan rasa takut dan panik, ada
semangat hidup yang terbit. Ada senyum di balik duka.
Sebuah senyum yang sebenarnya getir, tetapi memberi
sepercik kegembiraan, membangun semangat, menghapus
luka, pulihkan jiwa.

Berikut ini kumpulan cerita yang sebenarnya tidak
dimaksutkan untuk ‘sekedar tertawa’ tetapi dihimpun
sebagai suatu kisah-kisah jenaka dari mereka yang
masih bisa tersenyum, menyisakan semangat hidup
diantara puing-puing kedukaan.

1. Kisah Jenaka Pertama (dikisahkan oleh Tia, relawan
di wilayah Mojohuro Imogiri, 90 % wilayah hancur)
Senin siang itu, hari ketiga setelah gempa, aku
mengunjungi kawanku. Kawanku, Mas Bari, masih bisa
tersenyum diantara puing-puing rumahnya yang hancur,
nyaris rata dengan tanah di Mojohuro, Imogiri. Senyum
dan canda anak-anaknya yang masih berusia 2 dan 9
tahun memberinya semangat hidup. Ketika kami datang ke
belakang rumahnya, ia menunjuk sebuah WC model jaman
dulu yang terletak di luar rumah. Tembok WC itu sudah
hancur, tetapi lubang WC-nya, untung, masih bisa
mereka pakai sebagai WC darurat dengan pembatas
plastic disekelilingnya sebagai penutup. Tiba-tiba dia
tersenyum ketika anak tertuanya, Agus bercerita dengan
jenaka padaku. “Mbak waktu gempa Lik Harno (adik Mas
Bary) ada di dalam WC itu sedang pup (buang air
besar).” “Wah lucu sekali lho dia lari keluar WC
masih belum sempat tutup restleting, ha..ha..ha…”
begitu, tuturnya polos. Kami semua yang ada disana
tersenyum. Bahkan Ayah Mas Bary yang sudah renta-pun
ikut tertawa mengenang peristiwa itu. Mas Bary
bertutur singkat, “Ah, Mbak inilah anak-anak. Tanpa
mereka mungkin kami ini semua sudah putus asa.”Ya,
memang, kita seringkali menggunakan kosa-kata
‘kekanak-kanakan’ sebagai sesuatu yang berkonotasi
negatif, tetapi justru kanak-kanak lah yang seringkali
mengajari kita untuk tetap tabah menjalani hidup.

2. Kisah Jenaka Kedua (dikisahkan oleh Tanti,
mengalami gempa di wilayah Karangwaru, Kotamadya Yogya
wilayah utara, sedikit sekali kerusakan di kampungnya
hanya 3 rumah yang atapnya ambruk)
Pagi itu aku lari turun dari tangga karena rumah kami
bergoyang-goyang keras. Belum pernah aku merasakan
gempa sehebat itu di Yogya. Pikirku, ini pasti Merapi
meletus, ternyata bukan. Waktu aku keluar rumah di
depan jalan sudah banyak orang. Beberapa detik
kemudian setelah gempa reda, aku dan beberapa
tetanggaku baru sadar, ternyata diantara kami ada anak
tetangga, Bayu bocah lelaki yang sudah kelas 2 SMP
masih bergidik ketakutan. Dia masih menangis sambil
memeluk badan ibunya dari belakang. Ternyata Bayu
tidak pakai baju sama sekali, alias TLBB (telanjang
bulat-bulat). Rupanya waktu kejadian, Bayu sedang
mandi pagi untuk berangkat sekolah. Pasti tidak ada
orang yang perhatikan dia sedang telanjang waktu
berhamburan lari keluar rumah. Tetapi yang membuat
kami tersenyum diantara rasa takut dan parno (paranoid
akan terjadi gempa susulan), adalah ketika Bayu
menutupi ‘aurat’nya di balik tubuh ibunya. Jadinya
ketika gempa reda, mereka berjalan seperti truk
gandeng saja, karena Bayu malu, cepat-cepat ingin
pulang ke rumah. Ketika esoknya kutanya, “Bayu, udah
besar kemaren waktu gempa kok nangis?” jawabnya lugu,
“Ya itu campur perasaanku, Mbak, antara takut gempa
dan juga malu...” Yah ada-ada saja, pikirku. Untung
RUU-APP belum disyahkan ya..coba kalau sudah..pasti
Bayu terkena kriminalisasi deh...he..he..he..

3. Kisah Jenaka ketiga (dikisahkan pada penulis oleh
Joko, korban gempa yang selamat, tinggal di daerah
Sewon, Bantul)
Sebenarnya yang membuatku paling trauma itu justru
bukan waktu ada gempa, Mbak. Waktu itu, aku udah
pasrah karo Gusti Allah tenan! Pikirku, ini pasti
sudah mau kiamat saja. Tetapi ketika gempa itu
akhirnya reda, kurang dari satu jam kemudian semua
orang panik, ribut-ribut akan ada tsunami.
Waduuh..rasanya seperti mengalami teror dalam hidup
saja. Aku nggak bisa keluarkan mobil, Mbak karena
mobilnya hancur ketiban atap dan dinding garasi.
Untung pagi itu waktu ada gempa, aku sedang panaskan
sepeda motor di halaman, mau antar istri ke pasar.
Waktu ribut-ribut ada tsunami itu, secara spontan aku
langsung ngajak istriku dan anakku yang berumur 2
tahun (anaknya Joko bernama Idham, diberi nama seperti
itu karena dia sangat mengagumi Bupati Bantul-‘bukan
promosi politik lho wong Pilkada disini/Bantul, sudah
lewat’-begitu selorohnya). Waktu itu aku langsung
nge-gas, Mbak secepat-nya. Jalanan sudah penuh mobil
dan motor, bahkan orang lari-lari. Waktu aku sampai di
batas kota (kota Yogya bagian selatan), karena jalanan
macet sekali jadinya motorku cuma bisa jalan
pelan-pelan. Eh, kok tiba-tiba di jalan itu aku dan
istriku, juga orang-orang yang antri di jalanan itu
malah dikasih nasi bungkus oleh sekelompok orang,
Mbak. Kupikir, lho kok baik sekali orang ini ngasih
aku sangu (bekal), nasi bungkus di dalam kantong
plastik. Apa mereka sudah tau ya, kalau akan ada
bencana? Elah dalah..setelah semua ini reda, aku baru
tau Mbak..ternyata mereka itu semua pemilik
warung-warung makan. Waktu kutanya, kok mereka baik
banget mau kasih nasi bungkus segala? Jawabnya
singkat: “Wah Mas, kalau memang benar-benar ada
tsunami lewat sini, kami sudah nggak bisa kemana-mana
karena jalanan penuh sesak. Jadi kami pikir, ya kami
berbuat amal sajalah sebelum mati. Lagipula, nanti
juga nggak laku, daripada mubazir, Mas.” Yah..itulah
Mbak suka-dukanya gempa. Mungkin orang baru mau
beramal sosial karena ‘kiamat sudah dekat’ (bukan
promosi sinetron lho! Katanya, menambahkan).
Itu dulu senyum yang ingin kami bagi dari puing-puing
yang tersisa di Yogya.

Sabtu, 10 April 2010

Senyum

Oh senyum yang indah itu
Hanya satu oh milikmu
Aku rindu ingin bersamamu
Oh senyum yang damai itu
Oh semangati hidupku
Tariklah aku ke duniamu
Lihat lah saja diriku kini
Masih seperti yang dulu
Dua tahun tlah berlalu
Mengapa kau tinggalkan diriku
Sementara engkau tahu
Bunga ini untuk kamu

Oh mungkin di mana kamu

Aku hanya seorang yang lugu

Dan hanya bisa membisu
Oh tapi engkau tak pernah tahu
Senyum memikatmu itu
Yang selalu di hatiku
Kenangan jiwaku larut
Bersama senyuman di bibirmu
Membuatku makin biru
Bayangan senyum yang indah itu
Selalu nikmatkan khayalku
Ku sungguh cinta padamu
Oh kenapa engkau selalu ada
Di pelupuk mataku
Tak mampu kutepis bayangmu
Namamu selalu di haiku
Dan belum ada yang mampu
Gantikan senyummu itu